7.16.2010

Menulis


Halo semua!


Liburan 3 bulan ini sebagai pengangguran kebanyakan diisi dengan kegiatan menghamburkan uang di buku & transport atau bermalas-malasan di depan layar komputer. Bosen banget emang kalo menurut orang lain, tapi entah bagaimana gue selalu bisa nemuin alasan untuk nempel sama kursi. Mulai dari aktif lagi di beberapa akun berbau fotografi, nyari kerjaan, sampai mencari tahu lomba, diskon dan acara apa yang lagi ada belakangan.


Bermula dari gue liat ada lomba menulis yang diadain sama toko buku Times, bertema 'Time Flies' dari sebulan yang lalu, tekad untuk menulis sebenarnya udah ada. Mind map tentang waktu pun sudah jadi. Tapi entah kenapa, malaaas sekali menulis karangan, yah sebutlah esai, dalam bahasa Inggris! Mungkin itu dalih semata, alasan sesungguhnya ya karna kemampuan menulis udah menumpul banget. Bapuk.

Belakangan baru gue sadari, kalo tugas menulis buku harian (BH) yang dikasih guru Bahasa Indonesia waktu SMA seharusnya bener-bener bermanfaat. Kita jadi terbiasa menulis, mulai dari bahasa acak-acakan, hal yang bikin emosi kita diobrak-abrik, opini-opini yang tidak berani diungkapkan, mulai dari halaman yang tulisannya cuma sedikit karena bingung mau menorehkan apa (merasa tidak ada yang menarik sepanjang hari) hingga jadi semakin banyak, semakin tertata rapi, dan ya... tanpa sadar budaya menulis terbentuk di masing-masing murid *yang rajin nulis*.

Sampai kelas sebelas, gue masih terhitung rajin menulis buku harian. Selalu ada yang menarik, & isi BH itu pasti selalu tentang anak-anak di kelas, kejadian-kejadian lucu, tidak terlalu banyak yang tentang pribadi (yaiyalah BHnya dibaca juga sama gurunya, jadi waswas kan). Guru gue memperbolehkan murid-murid menumpahkan semua yang mau kita tulis, entah emosi yang buruk (bete, marah, sedih) atau positif (gembira, excited, jatuh cinta :P), bahkan cuma sekedar coretan besar berisi, yaaa umpatan yang dihaluskan, atau doodles. Tapi hasrat menulis jadi terlupakan karena terlalu banyak hal yang mengganggu, gurunya juga ngebetein sih, hehe.

Fungsi tulisan untuk menyampaikan apa yang ada di pikiran, berbentuk informasi, tidak selamanya positif. Ada tulisan-tulisan yang memancing kontroversi, bersifat ambigu, bertele-tele dan kurang bermakna. *Duh semoga tulisan ini ga bikin pusing ya, hahaha*
Banyak masalah yang udah terbukti kejadiannya hanya karena tulisan yang mungkin hanya sebaris.

Apapun yang kita tulis, di dunia nyata maupun maya, keduanya punya resiko. Apalagi sekarang lagi ngetren banget nge-blog, baik micro-blogging *Twitter* di mana Indonesia termasuk negara pengguna terbanyak ke berapa gitu (cukup tinggi) & cukup getol bikin trending topic (TT) yang sering bikin orang luar bingung.

Khususnya belakangan, waktu Harry Potter & The Goblet of Fire lagi tayang di tivi pas musim Eclipse baru keluar, banyak orang nge-tweet tentang betapa kool dan innocent atau apalah muka si Robert Pattinson di film itu *silent sigh*. Ada juga hanya karna sebuah tweet, nama seseorang mangkal di urutan ketiga karena menyinggung para pengguna BB. Panjang ya, ceritanya.

Weblogs juga. Menampung tulisan panjang bikin puyeng macem ini dan berbagai macam media.


Semuanya punya rasa ingin menyalurkan aspirasi. Di luar negeri, khususnya yang menganut paham liberalisme, mereka benar-benar mendukung dan melindungi warga negaranya untuk mengeluarkan suara, pendapat atas ini itu. Salut ya. Tapi karena kita tinggal di Indonesia yang kebebasan persnya (pel. kwn bilang) bebas dan bertanggungjawab. Ya gitu.

Selalu ya, kita harus mempertanggungjawabkan apapun yang kita lakukan. Terkadang memang perlu untuk mengabaikan apa kata orang tentang kita, tapi mereka selalu ada, untuk memperhatikan, untuk menilai. Sudah cukup buat saya jadi anak labil (ababil) dan sangat berkehendak untuk jadi makin stabil. (gaya banget)

Ingat saja, tulisan itu jejak. Sesuatu yang kita torehkan, dengan bahasa, baik yang dimengerti banyak orang atau tidak. Selama ada saksi mata, apa pun bisa terjadi, ya kan gatau apaan itu. Bisa macem-macem; omongan ga bener, rekomendasi, dan semacamnya.

Hayuk mari, sama-sama bangun budaya menulis di kalangan anak muda biar ngga malu sama generasi sebelum kita. Malu kan kalo penerus jurnalisme semakin menipis. Sekarang aja sastra peminatnya hanya sejumput--paling-paling keluar di soal-soal Ujian Nasional dan bikin murid-murid kelabakan saking panjangnya tuh teks dengan ejaan lama dan bahasa yang gak kita ngerti! Nah lho. (gue bahkan tidur waktu UN SMA Bahasa Indonesia. Kepanjangan, bu.)

Seandainyaaa sastra Indonesia dulu oke, kaya literatur Inggris yang banyak banget itu.
Seandainyaaa semasa sekolah sastra lebih dibahas, kaya di Laskar Pelangi aje. Huahaha *ngarep*


Jangan melemah, ya, semangatku!!


Yenny

3 comments:

Guswandi said...

yeay yenny balik lagi di blog! haha
gue jg pengen banget nih aktif lagi, emg kdg udh tumpul juga gue dalam menulis, harus dilestarikan nih.

Yenny said...

@guswandi hahaha iya gus, harus di-yenny-kan hahahahahaha :P

Guswandi said...

pas banget nama lo gue masukin semuanya,hahahaha